Ngering Merapi, 35 Peserta CTC Nikmati 130 Kilometer Perjalanan dan Persaudaraan

0
IMG-20260823-WA0026

Myindonesianews.id – Sleman – Sebanyak 35 peserta Condongcatur Touring Club (CTC) menempuh perjalanan sekitar 130 kilometer dalam touring perdana bertajuk “Ngering Merapi”, Sabtu 22 Agustus 2026

Bukan mengejar kecepatan atau memamerkan kendaraan, perjalanan mengitari kawasan Merapi itu menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan membangun keakraban di luar rutinitas pekerjaan.

Touring diikuti unsur Kapanewon Depok dan Kalurahan Condongcatur, mulai dari panewu, pejabat kapanewon, pamong kalurahan, dukuh, staf, anggota Linmas, Bhabinkamtibmas, hingga Babinsa.

Peserta berkumpul di halaman Kantor Kalurahan Condongcatur sejak pukul 06.30 WIB. Setelah pengecekan peserta dan kendaraan, pengarahan keselamatan, doa, serta foto bersama, rombongan mulai bergerak pukul 07.00 WIB.

Jagabaya Condongcatur Rudi Antariksawan mengatur formasi dan kesiapan peserta. Sementara Koordinator CTC Wahyu Nurendra, S.AP. menyampaikan pengarahan mengenai rute, titik pemeriksaan, tempat istirahat, ishoma, serta ketertiban selama perjalanan.

Rombongan melaju dengan kecepatan santai, rata-rata sekitar 60-70 kilometer per jam dengan menyesuaikan kondisi jalan dan lalu lintas. Prinsip yang dibangun sejak awal sederhana: tidak mengejar kecepatan, menjaga formasi, dan memastikan tidak ada peserta tertinggal.

Sepeda motor yang digunakan peserta beragam. Ada skuter matik, motor bebek, motor berkopling, hingga kendaraan lawas.

Jagabaya Condongcatur, misalnya, memilih mengendarai Honda CB100. Sejumlah peserta lain menggunakan Honda Astrea Prima yang usianya juga tak lagi muda.

Tidak ada persyaratan jenis maupun merek kendaraan. Peserta dipersilakan menggunakan sepeda motor yang biasa digunakan sehari-hari sepanjang kondisinya layak untuk perjalanan.

Semua kendaraan dipasangi pita hijau sebagai penanda rombongan karena bendera kecil berlogo CTC belum tersedia.

Di tengah keberagaman kendaraan itu, para peserta tampil kompak mengenakan kaos hitam CTC. Logo komunitas berwarna emas-putih terlihat mencolok di bagian depan.

Dari Condongcatur, rombongan menuju SPBU Sucen, Salam, Magelang, untuk beristirahat sekaligus mengisi bahan bakar. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Pasar Soko, Dukun, dan pertigaan Ketep.

Di Ketep, perjalanan sejenak berhenti. Peserta duduk bersama menikmati gorengan dan mendoan.

Suasana tersebut justru menjadi salah satu bagian yang paling berkesan. Tidak ada pembicaraan formal kedinasan. Obrolan ringan dan canda mengalir di antara peserta.

Panewu Depok Rakhmat Harinawan, S.Sos., M.Si., yang mengikuti perjalanan bersama istrinya, mengatakan touring tidak seharusnya dinilai dari jauhnya perjalanan maupun kendaraan yang digunakan.

*”Touring itu bukan soal berapa jauh kilometer yang ditempuh. Touring bukan seberapa mahal motor yang dipakai. Touring adalah menikmati perjalanan, menikmati cerita yang tercipta di setiap kilometernya. Karena tujuan akhirnya kembali sampai di rumah dengan selamat,”* kata Rakhmat.

Dari Ketep, perjalanan berlanjut menuju kawasan Selo. Rombongan sempat berhenti dan mengabadikan kebersamaan di depan Patung PB VI dengan lanskap pegunungan sebagai latar.

Perjalanan kemudian membawa peserta menuju Pasar Cepogo. Di tempat ini, sebagian peserta memanfaatkan waktu istirahat untuk membeli sayuran dan hasil pertanian sebagai oleh-oleh.

Momen sederhana itu ikut memberi warna pada touring. Peserta berangkat dengan sepeda motor dan pulang membawa sayuran untuk keluarga.

Rombongan selanjutnya menuju Kopi DjuWos untuk beristirahat dan makan siang. Tempat bernuansa tempo dulu dengan lingkungan yang asri menjadi persinggahan sebelum perjalanan pulang.

Ketika waktu Zuhur tiba, peserta menghentikan kegiatan dan melaksanakan shalat Zuhur berjamaah di Masjid Miftachul Huda yang berada tidak jauh dari lokasi.

Selepas ishoma, rombongan melanjutkan perjalanan pulang melalui Jatinom, Pasar Pulowatu, hingga Koroulon, Bimomartani.

Peserta kemudian melanjutkan perjalanan menuju Condongcatur ataupun langsung kembali ke rumah masing-masing.

Sekitar pukul 15.45 WIB, perjalanan sejauh kurang lebih 130 kilometer tersebut selesai dan peserta telah kembali ke rumah masing-masing.

Touring turut diikuti Panewu Depok Rakhmat Harinawan; Kepala Jawatan Praja Kapanewon Depok Feri Fedian, S.IP., M.IDS., M.AP.; Kepala Jawatan Umum Benyamin Dalung, S.Kom.; dan Kepala Jawatan Keamanan Deni Irwandi, S.E., Ak.

Dari Pemerintah Kalurahan Condongcatur hadir Plt. Lurah Budi Arto, S.IP., M.AP.; Carik Riska Dian Nur Lestari, S.TP., M.Sc.; Jagabaya Rudi Antariksawan; Kaur Pangripta Wahyu Nurendra; Kaur Tata Laksana Andree Setiawan, S.H.I.; serta Kaur Danarta Fernandya Riski Hartantri, S.T.

Sejumlah dukuh, staf, anggota Linmas, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa Condongcatur juga mengikuti perjalanan. Plt. Lurah Condongcatur turut didampingi istrinya.

Kebersamaan lintas unsur tersebut menjadi menarik karena Kapanewon Depok memang menaungi tiga kalurahan, yakni Condongcatur, Caturtunggal, dan Maguwoharjo. Data resmi Kapanewon Depok mencatat wilayah ini terdiri atas 58 padukuhan, 215 RW, dan 648 RT. Sementara Condongcatur sendiri memiliki 18 padukuhan dan 64 RW.

Dari touring perdana tersebut muncul gagasan untuk memperluas kegiatan dengan melibatkan tiga kalurahan di Kapanewon Depok.

Rakhmat mengatakan pengalaman yang dimulai dari Condongcatur dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kegiatan bersama dengan Caturtunggal dan Maguwoharjo.

*”Condongcatur sudah mengawali. Nanti kita coba bicarakan dengan teman-teman Caturtunggal dan Maguwoharjo untuk mengadakan touring bersama ‘Depok Nyawiji’. Harapannya mempererat kekeluargaan di luar kedinasan, saling mengenal lebih dekat, dan memperkuat silaturahmi,”* ujar Rakhmat.

Menurut dia, kegiatan semacam itu dapat menjadi ruang perjumpaan yang lebih cair bagi aparatur di tiga kalurahan.

Plt. Lurah Condongcatur Budi Arto mengatakan perjalanan mengelilingi kawasan Merapi tidak sekadar memberi kesempatan menikmati pemandangan.

*”Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan menikmati keindahan alam, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi, membangun kebersamaan, dan saling mengenal lebih dekat,”* katanya

Budi Arto berharap kebersamaan tersebut tidak berhenti setelah perjalanan selesai.

*“Semoga kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Mari kita jaga terus persaudaraan, kekompakan, dan kebersamaan,”* ujarnya.

Sementara itu, Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Depok Deni Irwandi memandang touring sebagai ruang penyegaran di tengah rutinitas pelayanan masyarakat.

*”Saat bertemu dan berkumpul bersama teman-teman, kami bisa sejenak keluar dari rutinitas. Dalam touring tidak membahas pekerjaan, tetapi benar-benar menikmati perjalanan dan kebersamaan,”* kata Deni.

Keselamatan menjadi perhatian selama perjalanan. Aipda Bagiyo, Bhabinkamtibmas Condongcatur, berada di bagian depan untuk membantu mengarahkan rombongan.

Sementara Serda Jati Hary Prayuda, Babinsa Condongcatur, berada di bagian belakang sebagai penyapu untuk memastikan tidak ada peserta tertinggal.

Pada akhirnya, “Ngering Merapi” bukan semata perjalanan 130 kilometer.

Ada mendoan yang disantap bersama di Ketep, foto dengan latar pegunungan di Selo, sayuran dari Pasar Cepogo, istirahat di DjuWos, hingga shalat berjamaah yang menjadi jeda perjalanan.

Motor yang digunakan boleh berbeda usia, jenis, dan harga. Jabatan para pengendaranya pun berbeda.

Namun, selama hampir sembilan jam perjalanan itu, mereka berada dalam satu rombongan dengan tujuan yang sama: menikmati perjalanan, menjaga kawan, dan kembali ke rumah dengan selamat.

CTC pun mulai menatap perjalanan berikutnya. Touring CTC Jilid II direncanakan menuju Pacitan, membawa semangat yang sama: perjalanan boleh semakin jauh, tetapi persaudaraan harus semakin dekat. (Sumardiyono)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *