Diduga Proyek Tidak Sesuai Spek, Plafon SMPN 3 Juwangi Ambrol Secara Misterius
myindonesianews.id – Boyolali – Insiden yang mengejutkan telah mengguncang SMPN 3 Juwangi. Plafon salah satu ruangan kelas ambrol tanpa ada yang mengetahui kapan tepatnya kejadian tersebut terjadi. Pada hari Jumat, 13 September 2024, sekolah ini mendapati bencana konstruksi yang mengancam keamanan para siswa dan guru.

Dugaan sementara menunjukkan bahwa material yang digunakan untuk pembangunan plafon tersebut jauh di bawah standar. Proyek yang baru saja rampung enam bulan lalu ini dikerjakan oleh pihak kontraktor yang diduga asal-asalan dan tidak mematuhi spesifikasi yang tertulis dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB). Hal ini berujung pada ambruknya plafon ruang aula, yang ironisnya, dulunya adalah ruang kelas.
“Niki nggih nembe sekitar enam bulanan dan ini sudah kedua kalinya plafon di ruangan ini ambruk,” ujar penjaga sekolah kepada Myindonesianews.

Perubahan fungsi ruang kelas menjadi aula terjadi karena jumlah siswa di tahun ajaran ini menurun drastis, dengan hanya tersisa dua kelas yang aktif. Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini karena kejadian berlangsung di luar jam belajar mengajar. Peristiwa runtuhnya plafon ini baru diketahui ketika salah seorang guru hendak memasuki aula untuk mempersiapkan acara Maulid. Betapa kagetnya ia ketika menemukan plafon yang sudah berserakan di lantai!
“Tiba-tiba saya lihat plafon sudah ambruk begitu saja,” kata penjaga menirukan guru yang pertama kali menemukan kejadian tersebut.
Insiden ini mencerminkan buruknya kualitas pekerjaan kontraktor yang seharusnya bertanggung jawab atas keamanan dan kelayakan bangunan sekolah. Menurut penjaga sekolah yang ditemui oleh tim media, proyek plafon ini baru selesai sekitar enam bulan lalu.
Ia juga mengungkapkan bahwa insiden serupa pernah terjadi sebelumnya di ruangan yang sama.

“Sebelumnya, plafon di ruangan ini juga pernah ambrol, dan kejadian kedua ini menunjukkan bahwa kualitas pekerjaan memang tidak bagus,” tambahnya.

Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum melakukan tindakan apa pun. Tidak ada langkah preventif, tidak ada upaya untuk menghubungi pihak pelaksana proyek, dan sepertinya pihak sekolah tengah dalam kondisi kebingungan menghadapi situasi ini.
Menambah kegelisahan, salah satu anggota komite sekolah mengaku bahwa mereka tidak pernah dilibatkan dalam proyek ini, baik melalui pertemuan maupun pembahasan. Seolah-olah proyek tersebut berjalan tanpa pengawasan dari pihak-pihak yang berwenang di sekolah.
“Kami tidak tahu-menahu tentang proyek ini, tidak ada pertemuan atau pembahasan yang melibatkan komite,” ungkapnya.
Tim media Myindonesianews yang melakukan investigasi ke lokasi mendapati bahwa proyek renovasi di SMPN 3 Juwangi melibatkan dua kontraktor berbeda, yaitu CV Nirwana dan CV Semoga Jaya.



Namun, hanya ada papan nama proyek milik CV Semoga Jaya yang terpasang, sementara papan proyek milik CV Nirwana tidak ditemukan. Proyek ini seakan berjalan di bawah bayang-bayang misteri dan ketidakjelasan.

Upaya Myindonesianews untuk menggali informasi lebih lanjut dari pihak sekolah tidak membuahkan hasil.Saat dihubungi melalui WhatsApp,Nurhanif, kepala sekolah SMPN 3 Juwangi,sepertinya memilih untuk diam seribu bahasa.
“Kepala sekolah tidak merespons pertanyaan kami,” lapor tim media, yang juga mendengar suara kokok ayam di latar belakang selama panggilan berlangsung.
Apakah ini bentuk dari ketidakpedulian atau memang ada sesuatu yang disembunyikan? Sampai saat ini, pertanyaan tersebut masih belum terjawab, sementara plafon aula yang roboh menjadi simbol runtuhnya integritas dalam pembangunan infrastruktur sekolah.
Tunggu investigasi lebih lanjut hanya di myindonesianews.id!
Berita ini tentunya menjadi sorotan, tidak hanya bagi warga Boyolali, tetapi juga bagi seluruh pihak yang peduli akan keselamatan dan kualitas pendidikan di Indonesia. Apakah anak-anak kita aman belajar di bawah atap yang rapuh?
Pewarta: Hadi
Editor : Hafiz
Source. : Liputan Lapangan
