IMG-20241003-WA0028

myindonesianews.id – Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur melalui Paguyuban Karawitan Ngesti Laras rutin setiap Kamis Pon membunyikan Gamelan perunggu dan secara khusus pada Kamis Pon 3 Oktober 2024 mendapat kunjungan dari PAUD Asparagus II Babadan Baru Kentungan.

Kepala Lembaga SPS Asparagus II Babadan Baru Kentungan, Muflichah, SE mengatakan secara khusus mengajak anak didiknya berkunjung ke kalurahan Condongcatur untuk melihat langsung mengenalkan alat alat musik gamelan yang dimainkan oleh paguyuban karawitan Ngesti Laras Condongcatur yang juga menampilkan lagu lagu jawa yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya Jawa serta melestarikan tradisi budaya Jawa yang ada di Yogyakarta karrna proses pendidikan anak sejak usia dini sangat penting dibarengi dengan pengenalan seni dan budaya yang bersifat pelestarian, salah satunya adalah pelestarian seni budaya dalam bentuk kreativitas seni, baik seni tradisi maupun modern. Bentuk kreativitas antara lain mengajak anak-anak mengenalkan dan bermain gamelan dari sejak dini.

“Anak-anak yang dikenalkan atau bermain gamelan, maka secara tidak langsung hal tersebut akan menimbulkan rasa cinta terhadap seni gamelan, apabila sejak kecil sudah diajarkan untuk bermain gamelan merupakan langkah nyata untuk melestarikan seni gamelan, disamping itu bermain gamelan juga bisa digunakan sebagai media stimulan untuk kecerdasan estetika, etika dan kecerdasan sosial bagi anak usia dini”, ungkapnya

Ketua Paguyuban Karawitan Ngesti Laras Condongcatur, Teguh Subroto, BA sangat bangga dan mengapresiasi atas kunjungan dari anak anak PAUD pada acara rutin Kamis pon bertepataan pengunaan pakaian jawa jangkep di lingkungan Kantor kantor dan Sekolah dan di kalurahan condongcatur gamelan dibunyikan.

“ Kita kenalkan perangkat gamelan yang ditabuh kepada anak anak seperti Kempul, Gong, Kenong, Bonang, Demung, Saron, Slentem, Gendang dan para Penabuh musik karawitan yang disebut pengrawit atau pradangga dan berikut para sindennya ”, ucapnya

Ditambhakn Teguh Subroto, Karawitan adalah seni gamelan dan suara yang menggunakan tangga nada slendro dan pelog, Istilah karawitan berasal dari kata “rawit” dalam bahasa Jawa yang berarti lembut dan halus.

“ Pengenalan Gamelan sejak dini perlu dilakukan mengingat makin banyaknya gempuran budaya asing yang suatu saat bisa mengakibatkan degradasi budaya dalam bentuk sikap apatis terhadap kesenian daerah, khususnya gamelan. Gempuran budaya yang tidak dibarengi dengan pembangkitan akan cinta pada kesenian, termasuk kesenian gamelan, tentu akan membuat generasi semakin lupa dengan kesenian yang diwariskan oleh masyarakat pendukung kesenian itu sendiri, jangan sampai malah orang orang luar negeri sana seperti dari Amerika yang pinter dan menguasai memainkan alat musik gamelan, generasi kita sendiri yang karena kurang peduli malah jadi penontonya, maka silahkan setiap Kamis Pon anak anak Paud dan lainya berkunjung ke Kalurahan Condongcatur untuk kita berikan edukasi dan kenalkan gamelan dan pendukung lainya”, harapnya (Sumardiyono)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *