IMG-20260423-WA0017

Dakwah Wayang Ustadz A.T Maulana Pukau Jamaah Rutin Pengajian Malam Kamis Kliwonan

Myindonesianews.id – Sleman – Suasana khidmat bercampur antusiasme tinggi menyelimuti pendopo cepit kediaman Lurah Condongcatur pada kegiatan Pengajian rutin Malam Kamis Kliwonan yang digelar oleh Reno Candra Centre (RCC) pada Rabu malam, 22 April 2026

Lebih dari 350 jamaah memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian acara yang memadukan spiritualitas, kritik sosial, dan pelestarian budaya. Pengajian malam kamis kliwonanan telah rutin digelar sejak tahun 2015 saat setelah Bapak Reno Candra Sangaji terpilih dan menjabat sebagai Lurah Condongcatur dan berlangsung rutin sampai sekarang.

Pengajian Malam kamis Kliwon sejak dahulu sampai sekarang mempunyai format yaitu diawali dengan sambutan lurah condongcatur yang menyampaikan informasi informasi dan program kegiatan yang tengah dan akan dilakukan pemerintah Kalurahan maupun pesan sosial sehingga ada komunikasi langsung kepada masyarakat kepada masyarakat / jamaah pengajian, selanjutnya diisi dengan Mujahadah yang dipimpin langsung oleh Mbah Kyai Muhammad Naim dari Selomartani Kalasan Sleman dan secara bergilir Grub – Grub Hadroh yang ada di Condongcatur tampil pada pengajian rutin ini.

Lantunan doa dan dzikir yang menggema menciptakan atmosfer yang tenang, mempersiapkan batin para jamaah sebelum memasuki sesi inti. Selanjutnya usai Mudahan diisi pengajian dengan menghadirkan para penceramah yang berganti ganti sesuai tema dan kali ini menghadirkan Ustad A.T Maulana atau yang terkenal dengan Dai Patroli yang dalam ceramahnya menggunakan media wayang karena wayang sebagai bisa media penyampaian kritik sosial, pesan sosial, keagamaan maupun budaya.

Kali ini Tausyiah unik dari Ustadz AT Maulana yang tekenal dengan sebuatan Dai Patroli berbeda dari ceramah konvensional lainya, media Wayang sebagai sarana dakwah. Strategi ini terbukti ampuh menyedot perhatian jamaah dari berbagai kalangan usia.

Dalam lakon yang dibawakan, Ustadz A.T Maulana menyelipkan kritik sosial yang tajam namun jenaka mengenai isu-isu hangat di masyarakat, seperti mulai dari Bahaya peredaran miras dan jud yang merusak moral generasi muda sampai Pentingnya pertobatan yang digambarkan melalui tokoh-tokoh yang berlumur dosa namun akhirnya menemukan jalan pulang melalui contoh-contoh nyata di kehidupan sehari-hari.

“Dakwah melalui media wayang ini adalah upaya kita mendekatkan agama dengan budaya. Melalui lakon-lakon ini, kita belajar bahwa masalah sosial seperti judi dan miras bukan hanya tanggung jawab aparat, tapi tanggung jawab iman kita masing-masing,” ujar Ustadz Ahmad Tugiran Maulana di sela-sela pertunjukannya.

Pengajian malam kamis Kliwon juga merupakan bentuk sinergi budaya dan agama, kehadiran grup Hadroh kali ini dari Nuruttajdid yang berasal dari Tegalturi Karangasem Gempol menambah kemeriahan pengajian malam kamis Kliwon tersebut dengan lantunan sholawat yang rancak yang juga di dukung penuh dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari BANSER Condongcatur yang menjaga kenyamanan jamaah juga Remais Masjid Antik Soko 7 hingga GARFA Kapanewon Depok

” Di Condongcatur ada 40 lebih grub Hadroh yang kita gilir tampil pada setiap pengajian malam kamis Kliwonan juga Remais / Muda Mudi untuk bertugas menghidangkan snack dan minumnya, untuk pemilihan hari malam kamis Kliwon sesuai dengan tanggal neton lahir kami”, jelas Reno Candra Sangaji

Tausiyah malam ini dengan Penggunaan wayang sebagai media dakwah ini diharapkan menjadi role model baru dalam menyelesaikan masalah sosial di masyarakat. Dengan bahasa yang ringan dan visual yang akrab di telinga masyarakat Jawa, pesan-pesan agama menjadi lebih mudah meresap tanpa terkesan menggurui, walaupun baru berakhir menjelang tengah malam jam 23.30 WIB jamaah tetap menyimak dengan baik dan tausiyah kali ini meninggalkan kesan mendalam bagi para jamaah tentang pentingnya menjaga nilai agama di tengah gempuran penyakit sosial modern
(Sumardiyono)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *