Pendampingan GLS Berbasis Perda DIY, SD Muhammadiyah Karangkajen Perkuat Budaya Literasi Digital
Myindonesianews.id – Yogyakarta – Upaya penguatan budaya literasi di sekolah dasar terus digencarkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Tim dosen melaksanakan program bertajuk Pendampingan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SD Muhammadiyah Karangkajen berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) DIY Nomor 1 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perpustakaan pada 5 Februari 2026.

Kegiatan ini diketuai oleh Prof. Dr. Anom Wahyu Asmorojati, SH., MH, dengan anggota Yasir Marzuqi, S.Pd., M.Pd., Suyitno, M.Pd., serta Fonni Acita. Pendampingan ini bertujuan memperkuat implementasi GLS sekaligus menjawab tantangan literasi di era digital.

Dalam pelaksanaannya, tim menemukan bahwa SD Muhammadiyah Karangkajen sebenarnya telah memiliki struktur kepengurusan GLS. Namun demikian, pelaksanaan program belum optimal akibat keterbatasan sumber daya manusia, khususnya dalam pengembangan inovasi literasi berbasis teknologi. Selain itu, masih terdapat guru yang belum sepenuhnya menjadi teladan dalam budaya membaca.

Sekolah tersebut sebelumnya telah menggagas berbagai program literasi sejak tahun 2012, seperti Gerakan Membaca dan Bercerita (GICA dan GITA). Program ini sempat berjalan efektif, namun mengalami penurunan seiring waktu. Upaya lanjutan dilakukan melalui program wajib kunjung perpustakaan bagi setiap kelas setiap pekan. Program ini mampu menghidupkan fungsi perpustakaan sebagai pusat belajar, meskipun minat kunjungan di luar jadwal masih tergolong rendah.

Berbagai inovasi juga telah dilakukan, di antaranya penyusunan memory book yang memuat pengalaman guru selama mengajar dan diterbitkan setiap tahun. Buku tersebut dibagikan kepada siswa dan orang tua sebagai upaya menumbuhkan minat baca. Selain itu, sekolah juga mulai memanfaatkan media pembelajaran interaktif berbasis video edukatif.

Meski demikian, literasi Kemuhammadiyahan masih terintegrasi dalam pembelajaran umum dan belum dikembangkan secara khusus dalam program GLS. Pihak sekolah berharap adanya pendampingan untuk merancang inovasi literasi yang mampu mengintegrasikan teknologi digital secara lebih optimal, mengingat keterbatasan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.

Melalui kegiatan ini, tim pengabdian mendorong penguatan GLS berbasis regulasi daerah sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi. Harapannya, budaya literasi tidak hanya menjadi program formal, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang mengakar di kalangan siswa dan seluruh warga sekolah. (Sumardiyono)
