150 Jamaah Padati Masjid Al Mujahidin, Alinka Raih TPA Prestasi di Tengah Syawalan
Myindonesianews.id – Sleman – Karangasem, 30 Maret 2026 – Lebih dari 150 jamaah dari berbagai kalangan memadati Masjid Al Mujahidin Karangasem dalam gelaran Syawalan & Talk Show Parenting yang berlangsung hangat, inspiratif, sekaligus menggugah kesadaran tentang pentingnya keluarga di era digital, Senin (30/3).
Kegiatan ini dihadiri oleh Dukuh Gempol, takmir masjid, pengurus Ummul Hasanah, tokoh agama, tokoh masyarakat, perwakilan Forum TPA Condongcatur, hingga santri dari balita sampai lansia.

Suasana kebersamaan langsung terasa sejak awal kegiatan yang diawali dengan makan bersama hidangan opor ayam. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembukaan dan penampilan hafalan Al-Qur’an oleh santri yang telah menyelesaikan Juz 30.
Sorotan utama tertuju pada Alinka Oktavia Antariksa, santri berprestasi yang tidak hanya menampilkan hafalan Surat Al A’la dengan tartil dan penuh penghayatan, tetapi juga dinobatkan sebagai penerima penghargaan TPA Prestasi Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Direktur TPA Al Mujahidin, Suyitno, disambut tepuk tangan meriah dari jamaah.

Dalam sambutannya, Suyitno menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin serta menegaskan pentingnya parenting yang relevan dengan kondisi zaman. Ia juga mengungkap capaian program selama Ramadhan.
“Sekitar Rp37 juta telah kami salurkan untuk berbagai program, seperti TPA Peduli Pendidikan, TPA Prestasi, TPA Berbagi untuk pengajar termasuk THR, TPA Bergizi, serta TPA Berdikari,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa ke depan TPA akan fokus mencetak santri penghafal Juz 30.

Memasuki sesi utama, narasumber Dr. Adib Sofia, S.S., M.Hum., menyampaikan materi yang langsung menyentuh realitas keluarga masa kini. Ia menegaskan bahwa keberhasilan parenting bertumpu pada keteladanan dan kedekatan emosional, bukan sekadar teori.
Dengan pendekatan sederhana namun kuat, ia menguraikan kunci keluarga sakinah:
1. Guci (Lugu dan suci)
2. Lengo (nek ono seng menteleng seng laine lungo)
3. Kayu (nek ono seng teka/teko seng neng omah ngguyu)
4. Gapuk (kalau ada yang lega anggota yang lainnya mengepuk-puk/apresiasi)

Pesan paling menggugah datang dari ajakannya untuk mengurangi ketergantungan pada gawai.
“Kalau kita tidak mulai meninggalkan HP, kita bisa kehilangan kedekatan dalam keluarga,” tegasnya di hadapan peserta.
Diskusi berlangsung hidup dengan berbagai pertanyaan dari jamaah, mencerminkan tingginya kepedulian terhadap pendidikan anak di era digital. Acara kemudian ditutup dengan kidung eling-eling yang menyentuh, dilanjutkan doa bersama.

Kegiatan ini menegaskan bahwa masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat penguatan keluarga dan pembinaan generasi berakhlak di tengah tantangan zaman. (Sumardiyono)
