IMG-20250908-WA0039

myindonesianews.id – Sleman – Badan Koordinasi (Badko) Taman Kanak-kanak Al Quran (TKA) dan Taman Pendidikan Al Quran (TPA) Kapanewon Ngemplak menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Mahir I Ustadz-Ustadah TKA-TPA Se Kapanewon Ngemplak di Aula Kalurahan Sindumartan Ngempliak Sleman pada hari Ahad, 7 September 2025.

Kegiatan Diklat Mahiir I diikuti oleh 71 ustadz-ustadzah yang merupakan utusan dari 29 Unit TKA-TPA diwilayah Kapanewon Ngemplak. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Panewu Ngemplak yang diwakili oleh Muhammad Yasluh Amin, S.Ag dan dihadiri oleh jajaran Muspika Kapanewon Ngemplak, Ketua Badko TKA-TPA Kabupaten Sleman, Pimpinan Ormas Islam, Dewan Pakar serta Dewan Penasehat Badko TKA-TPA Rayon Ngemplak.

Dalam sambutannya Ketua Umum Badko TKA-TPA Rayon Ngemplak, Joko Sutanto menyampaikan bahwa kegiatan ini sebagai media untuk menambah dan memantapkan pengetahuan Ustadz-Ustadzah sehingga dapat diaplikasikan dalam kegiatan belajar mengajar di unit TKA-TPA nya masing-masing serta menyiapkan dan meng-up grade sumber daya manusia untuk merealisasikan gerakan dakwah Islam melalui kegiatan pembinaan di TKA-TPA.

Diklat Mahir I menghadirkan 3 narasumber yaitu Ust M. Humam Masyhudi, S.Ag dengan materi Wawasan Kependidikan Islam, Ust. Evan Riyanto Arifin, S.Pd dengan materi Kajian Tajwid dan Irama Murottal dari Lembaga Dakwah dan Pendidikan Al Quran (LDPQ) DIY serta Bunda Likah dengan materi BCM / Bermain Cerita Menyanyi dari Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI) DIY.

Turut hadir Ketua Umum Badko TKA-TPA Kabupaten Sleman Ust. H. Mujiyono S.Pd, M.Hum sekaligus memberikan sambutan bahwa salah satu penentu keberhasilan pembelajaran di TKA-TPA yakni kompetensi ustadz- ustadzahnya. Peningkatan kompetensi ustadz- ustadzah melalui Diklat Mahir 1 adalah pilihan tepat, Selain itu ustadz-ustadzah perlu mempunyai pola pikir bertumbuh (growth mindset) siap menghadapi tantangan, hambatan dan menjadi pembelajar, selain itu memandang para santrinya sebagai individu yang siap dikembangkan.

Dalam Materi Wawasan Kependidikan Islam disampaikan bahwa pendidikan Islam yang sejalan dengan konsep pendidikan menurut Al Qur’an terangkum dalam tiga konsep yaitu Pendidikan Tarbiyah, Ta’lim dan Ta’dib. Pendidikan dalam konsep Tarbiyah lebih menerangkan pada manusia bahwa Allah memberikan pendidikan melalui utusan-Nya yaitu Rasulullah SAW dan selanjutnya Rasul menyampaikan kepada para ulama, kemudian para ulama menyampaikan kepada manusia, sedangkan pendidikan dalam konsep Ta’lim merupakan proses transfer ilmu pengetahuan untuk meningkatkan intelektualitas peserta didik, kemudian Ta’dib merupakan proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan akhlak peserta didik adapun kerangka dasar dari pendidikan islam adalah Al Qur’an, Sunnah dan Ijtihad.

Materi Kajian Tajwid dan Irama Murottal dijelaskan tentang pengertian tajwid (membaguskan bacaan Al Quran), tujuan tajwid (agar bacaan benar sesuai yang diucapkan oleh Rasulullah SAW, sehingga terhindar dari salah baca atau salah ucap yang bisa menyebabkan salah arti, salah maksud dan salah makna), hukum tajwid (membaca Al Quran bertajwid adalah fardhu ‘ain dan mempelajari tajwid adalah fardhu ifayah), pengertian tartil (bacaan pelan penuh perhatian dengan memberikan hak huruf dan harakat dengan benar), kriteria tartil (benar, fasih danstabil), makhorijul huruf (huruf halaq, huruf lisan, huruf syafawi dan huruf jauf), bacaan ghorib (imalah, isymam, naql, tashil dansaktah), sifat bacaan (at-tartil, at-tadwir, al-hadhr) serta irama murottal (irama bayyati kurdi, rost, nahawand, hijaz)

Disela-sela pembukaan acara Diklat Panewu Ngemplak yang diwakili oleh Muhammad Yasluh Amin, S,Ag turut memberikan sambutan dan apresiasi yang tinggi untuk pelaksanaan Diklat Mahir I, memberikan motivasi kepada Ustadz-Ustadzah untuk selalu istiqomah, pantang menyerah dan tidak putus asa dalam dalam membina TKA-TPA di Unitnya masing-masing serta mengajak kepada Ustadz-ustadzah untuk bersama-sama menciptakan kedamaian.

Selanjutnya pada materi BCM bahwa untuk tercapainya tujuan pendidikan maka perlu diperhatikan komunikasi 2 arah, yaitu pendidik dan yang dididik. Begitu juga dlm lembaga TKA-TPA, demi tercapainya tujuan pendidikan utk mencetak generasi Qur’ani maka perlu diperhatikan juga ” keinginan ” anak, sehingga pembelajaran akan berlangsung menyenangkan buat para santri. Anak-anak fitrahnya adalah suka bermain, dengar cerita dan bernyanyi. Maka dibuatlah metode BCM (Bermain, Cerita, Menyanyi) dalam menyampaikan pembelajaran supaya para santri dapat mengaji dengan cara yang asyik dan menyenangkan. (Sumardiyono)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *