Tradisi Nyekar di Makam Siti Hinggil Bangsal Kacangan: Peziarah Kirim Doa untuk Ahli Kubur
myindonesianews.id – Boyolali – Makam Siti Hinggil Kacangan masih memegang erat tradisi nyekar setiap Kamis sore atau malam Jumat. Peziarah dari berbagai daerah datang untuk mengirim doa kepada para ahli kubur dengan khusyuk dan penuh rasa hormat.

Salah satu makam yang sering dikunjungi adalah makam Kyai Ma’ruf, seorang tokoh agama yang dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an pertama di Kacangan. Kyai Ma’ruf dihormati dan dikenang atas kontribusinya dalam menyebarkan ajaran Islam dan mendidik generasi muda dalam ilmu agama.

Tradisi nyekar ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga menjadi momen refleksi spiritual bagi para peziarah. Mereka berdoa untuk keselamatan, kesejahteraan, dan ketenangan jiwa para ahli kubur serta untuk mengingatkan akan kematian bahwa nantinya kita pun juga akan seperti mereka yang telah dimakamkan.

Setiap Kamis sore, suasana di Makam Siti Hinggil Kacangan dipenuhi oleh doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus. Peziarah datang dengan membawa bunga dan air suci, simbol penghormatan dan kasih sayang serta bakti kepada mereka yang telah mendahului.

Makam Siti Hinggil Kacangan tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir para tokoh agama, tetapi juga menjadi pusat kegiatan spiritual dan sosial yang memperkuat ikatan komunitas serta melestarikan tradisi lokal yang kaya akan nilai-nilai keagamaan dan budaya.

Selain Kyai Ma’ruf, yang dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an pertama di Kacangan, makam ini juga menjadi tempat peristirahatan bagi banyak tokoh agama lainnya yang sangat karismatik, seperti Kyai Chamdani, Kyai Zuhdi Hasan, Kyai Zarkasyi, Kyai Ali Muhammad, Kyai Ali Hasan, dan Kyai Muhadi.

Mereka semua telah memberikan kontribusi besar dalam penyebaran ajaran Islam dan pendidikan agama di Kacangan Andong, sehingga dihormati dan dikenang oleh masyarakat setempat. Tradisi nyekar yang dilakukan setiap Kamis sore atau malam Jumat menjadi momen penting bagi masyarakat untuk mengenang jasa-jasa mereka dan memperkuat kebersamaan dalam komunitas.
Tradisi nyekar di makam ini diharapkan terus lestari, mengingat pentingnya menjaga warisan budaya dan spiritual yang telah berlangsung selama berabad-abad. Bagi masyarakat Kacangan, nyekar adalah bentuk penghormatan kepada leluhur dan wujud kebersamaan dalam memelihara tradisi yang sarat makna.
RED
Source : Liputan Lapangan
